Cara Mengembangkan Usaha Madu Hutan

Ada 2 jenis madu yang seringkali kita konsumsi yakni madu hutan dan madu ternak, namun kebanyakan jenis madu yang dikonsumsi adalah sejenis madu ternak. 2 jenis madu tersebut tentunya memiliki manfaat yang sangat besar, namun meskipun sama-sama madu tetapi madu hutan berbeda dengan madu ternak atau jenis madu yang dibudidayakan.

Madu ternak atau budidaya merupakn jenismadu yang berasal dari perut lebah Apis Mellifera, yakni lebah yang mencari nectar bunga yang tumbuh pada lahan pertanian ataupun ladang. Lebah Mellifera merupakan jenis lebah yang biasa diternakan, sehingga madu yang dihasilkannya dikenal dengan madu ternak.

mengembangkan-budidaya-madu-hutan

Sedangkan untuk madu hutan sendiri merupakan madu yang berasal dari perut lebah Apis Dorsata, lebah yang satu ini mencari nectar dari tanaman bunga yang tumbuh di hutan. Lebah yang satu ini hidu liar di dalam hutan, menutur Kuntadi sendiri bahwa jenis lebah yang satu ini bersarang di pohon dengan ketinggian antara 20 – 30 meter. Biasanya dalam satu pohon akan terdapat 100 – 200 sarang.

Untuk mengembangkan jenis usaha madu hutan ini, usaha yang dilakukan cukup berat jika dibandinkan dengan jenis usaha madu ternak. Pasalnya, selain dari ketinggian yang begitu tinggi, proses pengambilan sarang lebah-pun cukup sulit dan harus dilakukan hati-hati oleh seorang professional sekalipun seta letak sarang madu seringkali berada pada ujung cabang pohon.

Baca juga: Peluang Usaha Ternak Madu Hutan

Untuk proses identifikasinya sendiri, madu hutan lebih sulit dilakukan proses indetifkasi. Jika madu ternak biasanya diberi nama sesuai dengan jenis nectar atau bunga di lang, seperti madu lengkeng, madu randu, madu sonokeling, dan sebagainya. Berbeda dengan madu hutan yang diklasifikasikan berdasarkan pada lokasi,misaknya madu hutan tesso nilo yang berasal dari Hutan Tesso Nilo dan lainnya.

Warna madu hutan umumnya atau rata-ratanya memiliki warna yang merah gelap, sedangkan untuk madu ternak sendiri memiliki warna yang lebih cerah. Selain itu, madu hutan juga memiliki kadar yang lebih encer dibandingkan dengan madu ternak. Hal ini disebabkan karena madu hutan besarang di lokasi terbuka sehingga potensi dari paparan sinar matahari serta air hujan lebih besar dibandingkan dengan madu ternak. Kandungan dari madu tenak sendiri maksimalnya berada pada angka 18%, sedangkan kandungan maksimal pada madu hutan adalah 22%.

Madu dikatakan sebagai madu asli, jika berdasakan pada SNI madu murni memiliki kandungan kadar air sebanyak 22% maksimalnya. Masalah harganya, madu ternak biasanya dibanderol dengan harga antara RP. 150 ribu sampai dengan harga Rp. 200 ribu per kilogramnya, sedangkan untuk madu hutan Riau dibanderol dengan harga Rp. 70 ribu per kilogramnya. Paling mahal harga madu hutan yakni madu hutan pelawan Bangka Belitung denganharga Rp. 500 ribu sampai 700 Ribu per kilogramnya.

Untuk dapat mengembangkan usaha madu hutan ini, tentunya cara yang dilakukan akan sangat berbeda dengan cara mengembangkan usaha madu ternak. Pengembangan usaha madu htan dapat dilakukan dengan menjaga wlayah atau lokasi sarang lebah itu sendiri, hal ini berarti jika ingin mengembangkan usaha madu hutan maka pengusaha juga harus melindungi hutan untu dijadkan lokasi pengembangan madu tersebut.

Jika hutan tempat lebah Apis Dorsata ini rusak, tentunya usaha pengembangan apapun yang dilakukan oleh pengusaha akan sia-sia karena sumber utama dari madu hutan adalah berbagai bunga atau nectar yang didapatkanya dari hutan. Madu hutan disebut sebagai madu hutan karena nectar yang dihasilka berasal dari beragam tumbuhan yang ada di hutan, oleh karenanya sangat wajib jika ingin mengembangkan usaha ini dengan tidak merusak lokasi atau hutan tempat lebah bersarang.

loading...
Cara Mengembangkan Usaha Madu Hutan | mata | 4.5